BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2016

Patah Hati Kedua Akan Terasa Lebih Menyakitkan Daripada yang Pertama, Kamu Harus Tahu Kenapa!

Ketika kita patah hati untuk yang pertama kali, kita berpikir bahwa dunia telah berakhir.
Hati kita terasa remuk redam, kaki rasanya semakin melangkah ke belakang, setiap malam kita memandangi foto-foto dan membaca pesan-pesan lama, melihat Instagram, mengenang masa lalu yang indah. Rasa nyeri di dalam hati hanya bisa diobati dengan kembalinya ia yang pergi.
Dan kita lagi-lagi menangis semalaman, hanya untuk merasa lebih menyesal esok harinya.

Kita mulai mencoba untuk jatuh cinta dengan yang lainnya, berharap bahwa rasa sakit akan memudar dengan sendirinya.


Biasanya kita akan mulai membuka diri dengan orang-orang baru, pergi kencan, namun segera, kamu merasa bahwa sepertinya mustahil bagimu untuk membiarkan masa lalu tetap ada di belakangmu. Ketika kamu pergi makan malam dengan orang lain, kamu tersenyum sendiri karena kamu ingat pernah makan malam dengan orang berbeda, namun di tempat yang sama.
Kamu tahu bahwa kamu harus menghapus kenangan itu, kamu juga tahu bahwa kamu belum siap untuk menjalin hubungan jangka panjang. Semua orang-orang yang mendekatimu setelah patah hati pertamamu memang tak pernah memainkan perasaanmu, namun kamu sendiri tahu bahwa kamu belum siap karena kamu terus-terusan membandingkan mereka dengan cintamu yang lalu.
Dan di satu hari, kamu akan terbangun dengan kesadaran bahwa kamu menginginkannya atau tidak, kamu harus tetap melangkah pergi. Kamu harus belajar untuk mengangkat dirimu sendiri dan menghapus air mata yang kamu keluarkan setiap malamnya.

Kemudian kamu belajar untuk mencintai dirimu sendiri di tengah-tengah keadaanmu yang tak bisa mencintai siapapun.

Kamu mulai berpikir, mungkin jika kamu tak membutuhkan siapapun lagi, kamu bisa benar-benar bahagia.
Hingga akhirnya kamu bertemu dengannya. Ia yang datang tepat di saat kamu merasa bahwa lebih baik kamu terus sendirian saja. Kamu berpikir bahwa rasanya sudah cukup hatimu patah dan remuk gara-gara patah hati pertamamu. Kamu mengenalnya lebih dekat, kamu antusias sekaligus ketakutan, apakah nanti hubungan kalian akan berakhir sama seperti kemarin.
Kamu menjadi khawatir dan mulai menjaga jarak dengannya, bukan karena kamu berniat begitu, tapi kamu terlalu takut untuk merasakan patah hati yang sama. Namun ia membuktikan kesungguhannya denganmu, setelah kamu perlahan mulai membuka hati dan mau bertemu.
Dan kamu menganggap bahwa setiap orang pasti pernah merasakan kegagalan paling tidak satu kali, dan akhirnya kamu tak lagi takut untuk jatuh cinta lagi.

Rasanya seperti mendapat pencerahan, kamu pergi ke sebuah kencan yang sama sekali berbeda, dan kamu sudah mulai menikmati waktu-waktu kalian bersama.

Semuanya berjalan dengan baik, hubungan kalian menjadi lebih stabil, bahkan orang tua kalian juga sudah bertemu satu sama lain. Kalian berdua mulai membuat rencana, baik itu rencana jangka pendek maupun jangka panjang. Kalian terlalu nyaman saling berdekatan.
Di tengah-tengah keraguan, kamu terus meyakinkan diri sendiri bahwa semua batu kerikil memang seharusnya ada di setiap hubungan. Kamu tak sadar bahwa kamu mulai gagal melihat adanya keretakan. Kamu mengizinkan ia untuk mengulangi kesalahan dan terlalu cepat memaafkan tanpa adanya penjelasan.
Entah itu salah atau tidak, kamu menempatkannya di urutan pertama hubunganmu dan itu mulai merugikanmu.

Hubungan itu benar-benar telah menelanmu dan kamu mulai kehilangan dirimu sendiri di tengah-tengah kegiatanmu untuk mencintainya.

Seperti efek bola salju, kamu awalnya hanya menerima ia dengan segala kekurangannya. Namun semakin hari segalanya semakin sulit. Pertengkaran mulai sering terjadi dan begitu juga dengan jarak di antara kalian makin menjadi.
Entah kenapa ia makin sering membatalkan janji untuk bertemu. Kamu bilang kamu mengerti dan memaklumi, tapi kamu benar-benar tak bisa memahami. Kemudian ia meninggalkanmu tanpa penjelasan, menyisakanmu dengan segenap kepedihan.

Patah hati kedua terasa lebih menyakitkan, bukan?

Karena kamu telah menyerahkan hatimu yang sudah pernah patah padanya, berharap bahwa ia akan menyembuhkannya. Namun ia malah makin menghancurkannya serta menusukmu dengan pisau yang tajam.
Ia meninggalkanmu dengan luka menganga, ia meninggalkanmu tanpa adanya penyembuhan, dan betapa hatimu semakin berantakan dengan kepergiannya. Ia menganggapmu mampu untuk menyembuhkan hatimu sendiri, sama seperti yang pernah kamu lakukan sebelumnya.
Dan itulah alasan kenapa patah hati kedua terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya.

Jumat, 15 Juli 2016

10 Kalimat Ini Menandakan Kalau Cowok Sebenarnya Lagi Kirim Sinyal Ke Kamu

Banyak orang bilang, masa yang paling indah dalam sebuah hubungan adalah masa PDKT. Ya, nggak ada salahnya juga sih. Memang pada kenyataannya banyak yang gitu. Cowok memang rata-rata menggebu-gebu pada tahap ini. Di sisi lain, cewek biasanya cuma lempeng-lempeng aja. Nggak begitu merasa kalau dia dikejar-kejar. Nggak heran kalau banyak bilang, cewek itu cintanya dari nol dan terus bertambah ketika hatinya sudah mulai merasa ‘sreg’.
Nah buat sedikit panduan saja, kali ini Hipwee mau kasih tau kalimat-kalimat yang bisa terlontar dari teman cowok atau cowok yang lagi berusaha PDKT sama kamu. Kamu perlu paham, di balik kalimat-kalimat yang biasanya kamu terima dari cowok, selalu terdapat makna terselubung di dalamnya.

1. Kalimat pertanyaan ini sesungguhnya sudah menjadi kewajiban cowok sebelum memutuskan lanjut ke tahap selanjutnya


Dia melontarkan pertanyaan ini sama kamu, ya, supaya tau status jomblo atau tidaknya kamu. Dia butuh tahu, apakah kamu layak diperjuangkan atau tidak.

2. Selalu ada makna tersirat dalam sebuah kalimat yang cowok tanyakan. Dia punya harapan lebih dalam pertanyaannya

Dalam hatinya, ia berharap kamu belum makan, dan akhirnya bisa punya alasan kenapa bisa mengajaknya makan bareng.

3. Ini memang kalimat pernyataan. Namun, sesungguhnya terdapat unsur ajakan di dalamnya.

Intinya dia tanya dengan nada pinta,
Kamu mau nonton nggak sama aku?

4. Dia minta waktumu untuk mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan. Tapiii…

Mendalami… via pexel.com
Tapi setelah ia mengungkapkan apa yang ingin dia curhatkan. Biasanya dia malah ingin tahu kamu lebih dalam dan berharap kamu yang balik curhat kepadanya.

5. Ketika PDKT, tak pernah ada “sekedar kalimat tanya” yang dikatakannya kepada kamu

Sebelumnya dia pasti sudah cari tahu bahwa kamu adalah orang yang suka baca. Makanya dia tanya hal itu sama kamu dan punya misi terselubung,
Temenin aku ke sana dong.

6. Berusaha mencari kesamaan yang ada di dalam diri kamu adalah salah satu kuncinya memasuki duniamu

Ada banyak cara untuk menemukan kesamaan yang terdapat dalam dirinya dengan dirimu. Salah satunya, hobi.

7. Pun begitu dengan masalah selera musik. Semembosankan apa pun individu, tak ada manusia yang tak suka musik

Musik juga bisa dia pikirkan sebagai sesuatu yang jadi pemersatu. Sekali lagi, yang namanya cowok lagi ngejar cewek, dia pasti tahu segala cara demi mendapatkan info tentang kamu. Soal musik, mungkin dia tahu dari daftar lagu yang kamu setel di akun media sosial Path-mu.

8. Dia berusaha mencari waktu yang benar-benar luang bersama untuk bisa lebih dekat. Namanya juga usaha

Dia menanyakan kesediaan kamu di satu waktu. Dia sedang berusaha waktu yang berkualitas untuk tahu lebih dalam denganmu.

9. Kamu juga perlu tahu soal kalimat-kalimat yang bakal muncul di malam hari

Yahhhh, padahal mah.. via pexels.com
Kamu tahu? Kumpulan kalimat di atas ini sebenarnya punya makna,
Jangan tidur dulu dong. Masih asik chat sama kamu.

10. Ketika kamu mulai tertarik, kamu pun menanyakan soal ketersediaannya. Lalu, inilah yang dia ungkapkan

Hehehehe via pexels.com
Pahamilah. Dia sedang berusaha merendah untuk meninggi. Dia ingin meminta simpatimu dengan kalimat itu dan membuat kamu tertarik terhadapnya.
Nah itulah 10 kalimat yang sering dilontarkan cowok kalau lagi kirim sinyal ke cewek. Pahami dengan baik yak, biar tak ada kesalahpahaman antara cowok dan cewek lagi. :))

Kamis, 14 Juli 2016

Hanya Kamulah yang Kutunggu di Masa Depan. Semoga Kita Berjodoh

Aku belum menyerah untuk berhenti mencintainya. Tetapi itu sama saja dengan menyiksa perasaanku sendiri. Aku tidak mempedulikan hal itu, karena mencintainya juga adalah suatu kebahagiaan yang belum pernah tergantikan oleh yang lain. Rasanya aku akan bertahan dan terus bertahan entah sampai kapan.
Terkadang aku berpikir tentang "Mengapa harus dia?" Hingga akhirnya selalu ada luka setiap kali aku merindukannya, selalu ada air mata disetiap keheningan malamku, dan selalu ada doa yang terkesan mengeluh. Aku malu kepada Tuhanku. Tetapi perlu diketahui, aku mengeluh karena aku lelah -- lelah menanti suatu mimpi yang tergantung tinggi.
Terkadang aku ingin memutar waktu untuk tidak melihatnya hingga terpesona, menyukainya, hingga mencintainya selama ini. Berat menanggung perasaan yang tak kunjung padam, dan tidak akan pernah aku padamkan apinya. Aku menikmati gelora api yang membara dalam perasaanku ini.
Aku geram ingin menampakkan diri di hadapannya untuk sekadar menyapa,“Hei, apakah kamu jodohku? Mengapa aku mencintaimu sedalam ini?” Namun aku tahu bahwa hal itu akan menyeretku kedalam api perasaanku sendiri. Aku masih punya harga diri. Aku masih punya tameng untuk tahan kepada apiku saja, yaitu diam. Karena apa? Kodrat wanita adalah untuk dicari, bukan?
Seandainya aku tidak mencintainya, mungkin aku tidak akan membuang waktuku selama ini hanya untuk mencintainya. Lalu aku akan mencintai siapa? Entahlah. Belum tentu juga aku akan merasakan bahagia yang amat bahagia ketika bukan mencintainya. Atau mungkin aku akan sangat jauh menderita daripada ini. Aku tidak tahu. Yang jelas, ini permainan hidupku. Aku yang berperan. Namun bukan aku yang mengaturnya, karena ada Yang Mahatahu.
Kalian penonton, aku larang untuk mengkritik seperti, “Untuk apa menanti seseorang yang belum pasti?” atau “Kamu yakin sekali dia akan menjadi jodohmu. Buang-buang waktu saja tahu!” Sesungguhnya aku akan merasa inferior. Betapa jahatnya. Tidakkah kalian juga pernah berharap akan suatu hal? Lebih baik menyemangatiku, bukan?
Aku tidak pernah bosan untuk menangis dan berdoa tentang akhir dari pengharapan ini. Aku menikmati garis takdir meskipun dengan langkah yang letih. Aku tidak pernah membayangkan bahagianya jika dapat melangkah bersamanya menelusuri garis takdir. Sebahagiakah apa nantinya?
Aku memang sering meminta untuk dapat bersamanya. Namun, aku tahu diriku belum pantas untuknya. Jadi, untuk saat ini aku memperbaiki diri saja. Ya, menunggu sang jodoh menjemputku. Setidaknya, jika hari itu sudah datang, aku dapat menyambutnya dengan sangat istimewa. Aku tidak akan membiarkan momen itu terlewatkan dan tidak terpatri dalam ingatannya.
Maka dari itu, Tuhan membiarkanku dalam posisi seperti ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya dan bagaimana seharusnya. Tapi yang jelas, aku menyerahkan semuanya kepada Tuhanku. Aku, menunggumu..

Jarak Bukanlah Halangan Bagi Kita yang Punya Alasan untuk Bertahan

Aku meletakkan cangkir putih bercorak bunga sakura itu dan memandang ke arahmu yang sedang sibuk berkutat dengan laptop. Wajahmu terlihat sangat serius sembari membaca setiap email yang masuk. Berpikir sebentar lalu jari-jemarimu mulai merangkai kata. Sebuah senyuman kecil tersimpul di bibirku. Aku membatin dalam hati. Betapa tingginya tuntutan pekerjaanmu tidak menghalangimu untuk terbang menghampiriku di sini. Lalu, aku kembali menyeruput teh yang masih terasa hangat-hangat kuku itu.
Tak lama kemudian, kamu menutup laptop dan melayangkan senyum lebar kepadaku diiringi dengan sebuah rangkulan kecil pada pundakku. Percakapan untuk saling bertukar rindu pun kembali dilanjutkan. Tatapan mata dan sentuhan yang tak dihalangi oleh jarak. Pertemuan yang setiap hari selalu aku nantikan.
Perjalanan asmara kita jelas memupuk rindu yang tak berkesudahan. Banyak tantangan yang mencoba keras untuk mendobrak masuk, menyelinap ke dalam, dan mengutak-atik kontak rasa antara kita. Sederet pengorbanan dan perjuangan terpatri hampir di setiap alurnya. Tapi, toh, kita tetap bertahan.
“Perjalanan ini memang tidak mudah. Tapi, hubungan ini memberikan pelajaran yang bermakna untuk kita.”

Kepercayaan menjadi tonggak utama yang menopang beratnya bentangan jarak antara kita.


blog.mobilerecharge.com
Apa yang sedang kamu lakukan di sana? Dengan siapa kamu pergi? Aku hanya bisa berpegang pada setiap kata yang kamu utarakan. Ya, hanya itu saja. Begitu pun sebaliknya.
Kepercayaan merupakan fondasi dasar bagi kita untuk membangun hubungan ini dari bawah. Tanpa kepercayaan, semua ini tidak akan ada artinya.
Aku tak akan berbohong. Puluhan kali rasa curiga menyelimuti hatiku. Keraguan atas ucapan yang kamu sampaikan. Ketidakyakinan atas fakta yang tidak dapat aku lihat. Semua itu aku alami.
Tapi, percuma saja hidup dengan penuh ketakutan, bukan? Tak ada gunanya memelihara pikiran negatif dan membiarkan diri ini dilingkupi oleh kekhawatiran yang belum tentu benar. Jadi, tak perlu aku berasumsi dan menebak-nebak sesuatu yang tidak pasti. Karena segala sesuatunya akan terbukti sendiri suatu saat nanti. Saat ini, aku hanya perlu percaya saja.
“Membangun kepercayaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan menghancurkan kepercayaan itu hanya sesingkat sebuah kejapan mata.”

Sesibuk apapun aktivitas kita, komunikasi tetap harus terjaga. Hal inilah yang akan memperkokoh rasa antara kita.

kelly-3-021a57604fd2cb95ef2e886c406f90f4.jpg
lovemybrit.com
Perbedaan aktivitas yang dijeda oleh jarak menjadikan komunikasi bukanlah perkara kecil. Ya, benar. Urusan sesederhana saling bertukar kabar bisa menjadi pemicu perselisihan yang berujung besar. Kesalahpahaman itu ibarat hal yang sudah lumrah terjadi.
Namun, aku dan kamu tetap harus saling mengerti. Toleransi dan saling menghargai perlu dijunjung tinggi. Segala ganjalan yang menggantung di dalam hati akan kita sampaikan dengan kepala dingin. Saling berdiskusi dan memahami keinginan masing-masing demi mencapai titik temu yang kita sepakati.
Karena kita sama-sama belajar. Komunikasi penuh emosi tidak akan membuahkan hasil yang kita kehendaki. Kita perlu bersabar dan tetap menjaga perasaan masing-masing pribadi.
“Komunikasi itu ibarat oksigen dalam sebuah hubungan. Karena kepercayaan dapat hidup jika ada komunikasi yang terbina dengan baik.”

Walau masalah datang silih berganti, tapi komitmen yang sama membuat kita tidak menyerah dan berhenti.

kelly-4-8b92f22493cb7e9b67ede55c55246bf5.jpg
cityhyd.info
Selalu ada pengorbanan. Selalu ada perjuangan. Ini memang tidak mudah. Tapi, menjalaninya bersamamu tidak membuat hubungan ini terasa begitu berat.
Kita berselisih, kita berdebat. Ada kalanya pula aku merasa gerah. Hubungan yang minim kontak langsung ini tentu menyimpan segudang tantangan.
Tapi, kita tidak menyerah. Karena komitmen yang sama menjadi tempat kasih kita bermuara dan tempat kaki kita kembali berpijak. Kita tahu ada sesuatu yang akan kita tuju di akhir jalan ini.
“Kesamaan visi dan misi yang telah kita rajut bersama dari awal. Komitmen inilah yang menjadi benang inti dalam hubungan kita.”
kelly-5-4cfcef0b471dfe4f20cfe003632f6d06.jpg
quotesgram.com
Kita menghentikan langkah kaki kita di sini. Kamu berdiri menghadapku dan menatap lekat mataku. Ada sesuatu yang tersirat dari caramu memandangku. Aku memahaminya tanpa perlu ada translasi ke dalam kata. Kita berbincang singkat dan saling memberikan pelukan hangat. Lalu, kamu membalikkan badan dan mulai berjalan menarik kopermu, menjauhi tempatku berdiri dalam diam.
Aku hanya mampu menatap punggungmu. Aku menghela napas dan tersenyum. Jarak dan waktu kembali menjadi penghubung antara kita. Rindu kembali menjadi penghias kisah kita.
Kejujuran dan kesetiaan kita sedang diuji saat ini. Tapi, aku akan bersabar. Hingga nanti saatnya semesta menyatukan kita.
"Sebab ini bukan hanya soal rasa yang membuncah dari dalam dada. Namun, juga soal cita yang ingin kita perjuangkan bersama. Bukankah begitu, sayang?”

Kamis, 23 Juni 2016

Hai Lelaki Ingatlah, Jangan Cintai Kami Karena Nafsu Cintailah Kami Karena Iman

Cintailah seseorang karena imannya bukan karena nafsunya. Ladies, berhati-hatilah dalam mencinta. Bukankah di akhirat nanti kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai? Ingatlah pesan dari ‘Ibnu Qayyim Al-Jauziyah’ yang mengatakan bahwa cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab.
Oleh karena itu, jika kamu mencintai seseorang karena kecantikan dan ketampanannya, maka saat kecantikan dan ketampanannya hilang kamu akan kehilangan rasa cintamu terhadapnya. Jika mencintainya karena harta, maka saat hartanya hilang, hilanglah pula cintamu kepadanya.
Oleh sebab itu, jadikanlah sesuatu yang abadi itu sebagai sebab dari rasa cintamu karena Allah. Kelak, akan ada hari di mana kita menyadari bahwa anak kita lebih membutuhkan ibu yang soleh dan juga pintar dibandingkan dengan ibu yang cantik dan menarik.
Jika ada seseorang yang mengajakmu untuk salat berjamaah di awal waktu, mengajakmu ikut pengajian, mengajakmu untuk belajar Quran, bertanya kapan kamu akan memakai jilbab, memberitahumu untuk tidak berbuat ghibah, merasa khawatir saat kamu berduaan dengan yang bukan muhrim, bersedih saat kamu keluarkan makian, itu artinya dia benar-benar sayang kepadamu.
Kenapa pacaran sebaiknya dilakukan setelah menikah? Karena wanita bukanlah suatu barang atau pakaian yang bisa untuk dicoba-coba. Jika kalian mempunyai pacar? Maka katakanlah pada pacarmu, “Jika kamu memang wanita yang tertulis untukku di Lauhul Mahfud, maka Tuhan pasti akan menjaga rasa sayang ini agar tetap tumbuh di hatiku dan juga hatimu. Tapi selama tidak ada ikatan di antara kita berdua, maka jangan sekalipun untuk menghiraukan perasaan itu, karena kita tidak ada hak atasnya.”
Allah tidak pernah ingkar janji. Jika terus menjaga diri, maka kita akan mendapatkan pendamping yang lurus hatinya. Dengan cinta yang berlandaskan atas dasar iman, maka kamu akan membawa sang kekasih ke dalam surga yang abadi. Sedangkan bila cinta dilandasi dengan syahwat, maka hal itu akan membawamu bersama pasangan kedalam penyesalan yang abadi.
Ladies, ingatlah pesan dari Ibnu Qayyim yang mengatakan bahwa cinta itu mensucikan akal, menghilangkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong untuk berpenampilan rapih, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, menggunakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan juga kepribadian. Tapi cinta juga merupakan sebuah ujian untuk orang-orang yang saleh dan cobaan untuk ahli ibadah.
Cintailah seseorang yang memang bisa menjadi penyemangat saat taat dan menjadi pengingat saat maksiat. Carilah suami yang bisa menjadi sosok ayah yang baik, karena ayah merupakan jabatan yang tidak akan bisa tergantikan. Dan cintailah orang yang benar-benar bisa menjadi imam dalam shalat malammu.
Karena laki-laki sejati itu mendatangi ayahnya, bukan putrinya. Laki-laki sejati itu ngajak wedding, bukannya dating. Laki-laki sejati itu ngajak akad, bukan malah ngasih coklat. Ladies, carilah laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab. Semoga bermanfaat.

Kamis, 16 Juni 2016

Pelaminan Kita Depan Mata, Tapi Allah Punya Rencana Lain Untukmu


Kisah berikut ini merupakan kiriman sahabat Vemale, Hikmah, untuk mengikuti Lomba Kisah Ramadan 2016. Ia menceritakan kisahnya yang sudah hampir melangkah ke gerbang pelaminan tapi takdir berkata lain.
Kupandang rinai hujan dari jendela kamar pagi ini. Udara dipenuhi aroma tanah yang basah. Aroma yang menyenangkan, terasa akrab. Bukankah kelak kita akan menghabiskan masa penantian akan datangnya kehidupan akhirat bersama aroma yang sama? Kita berasal dari tanah dan akan kembali kepadanya saat kematian menjemput.

Pagi yang basah di bulan Ramadan seperti saat ini memaksa ingatanku kembali pada Ramadhan setahun silam. Ramadanku setahun lalu cukup menguras tenaga. Aktivitasku tidak berkurang, justru semakin bertambah di bulan puasa karena aku tak ingin kehilangan kesempatan mereguk pahala sebanyak-banyaknya di bulan yang mulia ini. Kutetapkan jadwal aktivitas harian agar tidak terlewat melaksanakan berbagai amal shalih. Tapi, selain itu aku juga disibukkan dengan persiapan pernikahanku. Ya, alhamdulillah pertemuan orang tuaku dengan orang tua Mas Alif, calon suamiku beberapa hari menjelang Ramadan berbuah penetapan tanggal pernikahan kami. Insya Allah, sebulan setelah lebaran aku resmi menjadi Nyonya Alif.

Awal Perkenalanku dengn Mas Alif

Sahabatku Shofi yang menjadi jalanku mengenal Mas Alif. Suaminya adalah teman dekat Mas Alif. Kami menjalani proses  ta’aruf yang syar’i. Sebelumnya kami bertukar biodata via email. Aku membaca biodatanya perlahan, usianya lebih muda dariku setahun. Ini mungkin akan jadi masalah baginya, meskipun aku sendiri tidak keberatan dengan itu. Akan kutanyakan hal ini nanti jika proses kami berlanjut. Pekerjaannya belum mapan, tapi aku sudah bertekad tidak akan menjadikan kemapanan sebagai ukuranku menentukan calon pendamping hidupku. 

Seorang laki-laki yang memahami agama akan bersungguh-sungguh mencari nafkah karena itu merupakan kewajiban dari Allah, kurasa hal itu sudah cukup menenteramkanku. Selebihnya tidak ada masalah. Aku secara khusus terkesan dengan aktivitasnya mengajarkan al-Quran dan riwayat pendidikannya yang berbasis Islam. Selain itu, ia ternyata juga aktif di organisasi Islam yang sama denganku. Apakah kami sering bertemu? Sepertinya tidak, karena organisasi kami bergerak secara terpisah laki-laki dan perempuan. Tapi, itu artinya kami memiliki kesatuan paham dalam menjalani kehidupan ini. Bahwa sesungguhnya hidup adalah untuk meraih ridha-Nya. Bukankah ini yang sepatutnya menjadi ukuran saat memilih calon imam?

Tak lama aku mendapat sebuah pesan singkat darinya menanyakan kesediaanku meneruskan proses ini. Bismillah, kukirimkan jawaban positifku. Begitulah, kami melanjutkan proses pengenalan ini melalui pesan singkat, telepon ataupun email. Berbagai hal harus dipastikan agar kita benar-benar mengenal calon pendamping kita. Tentu saja pada perkara yang mendasar, misal visi pernikahan, model pendidikan dan pengasuhan anak, serta karakter-karakter dasar kami berdua. 

Selain bertanya secara langsung padanya, aku juga mencari informasi kepada Umar suami sahabatku Shofi, melalui Shofi pastinya. Ada batas-batas pergaulan Islami yang harus kita jaga jika kita menginginkan keberkahan dalam pernikahan. Aku benar-benar berhati-hati agar tidak melanggar batas-batas itu. Komunikasiku dengan Mas Alif hanya sebatas itu, kami tak pernah berjumpa secara langsung kecuali saat ia datang ke rumah menemui orang tuaku dan sekali saat kami berpapasan di tempat parkir di suatu agenda pengajian. 

Kami memang bertukar foto, hanya saja foto itu langsung kami hapus setelah selesai melihatnya. Kami hendak memilih calon pasangan, bukan artis. Karenanya, pertimbangan agama dan akhlaknya harus lebih diperhatikan dibandingkan dengan tampilan fisiknya. Selain itu untuk menghindari agar kami tidak mengambil keputusan berdasar nafsu dan syahwat.

Kami Berdua Mantap Menikah

Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan. Istikharahku dan Mas Alif berbuah kemantapan. Mas Alif datang ke rumah menemuiku dan orang tuaku. Cukup lama ayah menginterogasinya, menanyakan berbagai hal. Cukup banyak pula yang ditanyakannya kepada orangtuaku mengenai kehidupan dan karakterku. Hari itu, ayah dan Mas Alif berangkat shalat Ashar dan Maghrib bersama di masjid dekat rumah kami. Aku tersenyum-senyum sendiri di rumah setelah melihat kedua lelaki itu berjalan bersama. Merasa bersyukur, dua orang yang tidak pernah bertemu itu ternyata bisa dekat dengan mudahnya. 

Seminggu kemudian, Mas Alif menyampaikan pinangan secara resmi bersama kedua orang tuanya dan beberapa kerabatnya. Dan saat itulah tanggal pernikahan kami ditetapkan. Ramadanku tahun lalu menjadi tahun yang sibuk. Komunikasiku dengan Mas Alif beralih pada percakapan teknis, dalam rangka menyiapkan pernikahan. Sepuluh hari terakhir Ramadhan, aku bahkan tidak berkomunikasi dengannya sekalipun karena aku tinggal berkoordinasi dengan keluarga di rumah. 

Kukira begitupun Mas Alif, karena nomor HP yang selalu dipakainya saat menghubungiku sering tidak aktif. Pasti dia sibuk menghubungi keluarganya di Sumenep, Madura dengan nomor lamanya. Maklum, karena beda operator, Mas Alif akhirnya membeli nomor khusus agar tidak boros saat berkomunikasi denganku. Karena belum memprioritaskan membeli dua HP untuk keperluan ini, akhirnya memang kedua nomor itu harus dipakai bergantian. Karena sudah tidak banyak yang harus dibicarakan dengannya, aku tidak keberatan dengan kondisi ini.

Sampai Suatu Hari Aku Menerima Telepon

Lalu suatu hari, di pagi Ramadan yang basah karena hujan lebat, aku pun memandang rinai hujan dari jendela. Aku beranjak saat mendengar handphoneku berbunyi. Panggilan dari Mas Alif. Aku mengucap salam sambil tetap memandang rinai hujan di luar.
“Wa’alaikumsalam," suara berat menyahut. 
Aku tertegun, ini bukan suara Mas Alif yang renyah. 
“Maaf, ini dengan siapa?” aku bertanya heran.
“Mbak keluarga pemilik handphone ini? Saya dari Kepolisian Sumenep. Pemilik handphone ini kecelakaan, meninggal di tempat."

Polisi tadi masih mengucapkan beberapa kalimat yang seolah terdengar dari kejauhan. Aku gemetar, rinai hujan di luar berpindah ke kedua mataku. Ketetapan Allah telah dijatuhkan, insya Allah ini yang terbaik. Aku meyakinkan diri sendiri bahwa Allah selalu menyembunyikan hikmah di balik setiap peristiwa. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Mas Alif dan memberikan balasan terbaik bagi setiap amal shalihnya. Semoga aku menjadi muslimah yang ikhlas menjalani ketetapan Allah dan selalu istiqamah menjalankan perintah-Nya. 

- Surabaya, 10 Ramadhan 1437 H
 
Copyright © 2014 PatriotNews

Powered by JoJoThemes