BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juli 2016

Presenter Ternama Ini Dulunya Ranking Bontot di Sekolah. Tanda Peringkat Bukan Penentu Segalanya


Paras cantiknya kerap menghiasi layar kacamu di program berita salah satu stasiun TV swasta ternama. Gaya bicaranya saat membawakan berita begitu membius pemirsa TV. Tak sedikit yang ngefans denga jurnalis sekaligus news anchor tersebut. Pembawaannya yang tenang saat mewawancarai tokoh ternama pun semakin menguatkan citranya sebagai juru warta yang kompeten lagi cerdas.
Akan tetapi, siapa sangka jika wanita yang juga bergelut di panggung teater ini ternyata dulunya termasuk golongan murid yang berperingkat terbelakang di kelasnya saat masih SD dan SMP. Tanda bahwa peringkat tak selalu menentukan kesuksesan masa depan seseorang. Nggak percaya? Yuk belajar optimis dari kisah hidup Marissa Anita!

Kamu boleh percaya atau nggak, kenyataannya Marissa sering ketar-ketir saat kenaikan kelas dari zaman SD hingga SMP

Marissa pernah duduk di peringkat terbelakang saat zaman sekolah dulu. viawww.beritau.net
Perempuan cerdas dan fasih berbahasa Inggris adalah image yang melekat erat pada diri seorang Marissa. Ternyata, wanita kelahiran Surabaya, 29 Maret 1983 ini pernah punya catatan buruk semasa sekolah. Dari sejak SD hingga SMP, ketar-ketir tiap kenaikan kelas kerap dialami olehnya. Memang sih, pada akhirnya ia selalu naik kelas, namun sayangnya prestasinya kian tahun kian menurun. Ia menduduki rangking kedua hingga ketiga dari belakang.

Hingga akhirnya dukungan seorang sahabat berhasil mengubah hidup seorang Marissa Anita

Dukungan dari seorang sahabat mengubah hidup Marissa. via m.tempo.co
Pernahkah kamu menemukan seseorang yang bisa mengubah hidupmu? Seseorang yang mampu berjasa mengantarkanmu melawati proses from zero to hero. Marissa Anita pernah mengalaminya. Seseorang yang berarti baginya itu adalah Tuta Cyntia, sahabatnya saat SMP.
Singkat kata singkat cerita, saat kelas 3 SMP, Marissa duduk di sebelah Tita. Seorang Tita lah yang menyemangati dan membantu Marissa untuk keluar dari kesulitan belajar yang dialaminya. Tita mengajari Marissa bahasa Inggris dan Matematika. Masa-masa ketika seorang sahabat mendampinginya tanpa lelah itulah yang menjadi turning point bagi seorang Marissa. Marissa pun berhasil lulus SMP dan masuk Sekolah Pariwisata Santa Theresia, Menteng.

Meski sempat menduduki peringkat hampir terbelakang semasa sekolah, Marissa akhirnya berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik saat S1!

Jadi lulusan terbaik saat S1. via www.kaskus.co.id
Berkat semangat yang ditularkan oleh Tita, Marissa seolah menjadi pribadi yang jauh lebih percaya diri akan kemampuannya. Ketika SMK, Marissa terus menunjukkan perkembangan di bidang akademisnya. Hingga saat lulus SMK, ia berhasil meraih peringkat ketiga. Tak sampai disitu, alumni Universitas Atma Jaya jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini juga lulusan terbaik saat S1. Selepas merampungkan gelar sarjananya, Marissa melanjutkan studi masternya ke University of Sydney – Australia dan berhasil meraih predikat sebagai 1 dari 7 lulusan terbaik di sana.

Ketika Marissa menjadi guru, ia berusaha menyemangati muridnya yang tidak percaya diri dengan kemampuan akademisnya

Pernah jadi guru… via qubicle.id
News anchor yang dikenal ramah dan menawan saat tampil di layar kaca ini juga sempat menjadi guru sebelum akhirnya menikmati profesinya saat ini sebagai jurnalis. Semangat yang ditularkan Tita, lantas ditularkan Marissa pada anak didiknya saat ia menjadi guru bahasa Inggris. Jika ia mendapati ada beberapa murid yang merasa minder dengan kemampuan akademisnya, Marissa mendekatinya untuk kemudian menyemangati anak-anak tersebut. Usahanya tak sia-sia karena pada kelas berikutnya murid-muridnya itu berkembang menjadi siswa yang berprestasi. Yeaay!

Tak hanya menjadi juru warta, Marissa juga bergelut di panggung teater dan bisa bicara 5 bahasa!

Marissa juga bergelut di dunia seni peran. via www.kapanlagi.com
Tak hanya sibuk memburu berita dan membacakannya saja, Marissa juga punya kesibukan lain. Jurnalis cantik ini juga bergelut di panggung teater lho! Dari menjadi aktris hingga produser untuk beberapa pementasan. Marissa aktif di komunitas teater berbahasa Inggris The Jakarta Players di Jakarta. Tak hanya itu, Marissa juga turut berakting dalam film besutan Rako Prijanto 3 Nafas Likas.
Eits, masih belum cukup, Marissa juga bisa bicara 5 bahasa lho! Setelah mempelajari Bahasa Inggris, Marissa yang memang senang mempelajari bahasa ini lantas mempelajari 4 bahasa lainnya, yakni Perancis, Italia, Jepang, dan Mandarin. Daebak!

Ups, mungkin banyak dari kamu yang bakal menyangka jika jurnalis secantik Marissa punya banyak mantan. Sayangnya kamu salah duga!

Marissa bukan tipe cewek yang hobi gonta-ganti pacar.. via www.kaskus.co.id
Pacar pertamaku itu pun maksa. Pacaran pertama itu pas umur 22..
(Marissa Anita via Sarah Sechan Net)
Nggak ada yang menyangka bahwa jurnalis multitalenta ini ternyata nggak punya banyak mantan lho! Perempuan yang sekarang sudah jadi istri dari Andrew Trigg ini mengisi masa mudanya dengan ragam kegiatan positif. Mikirin perasaan sih nomor kesekian bagi seorang Marissa. Berdasarkan perbincangannya dengan host kenamaan Sarah Sechan di sebuah talk show di salah satu stasiun TV swasta, ia mengaku cuma punya 2 mantan. Yup, sebelum akhirnya menikah dengan Andrew, ia sempat berpacaran sekali di usia 22 tahun. Itu pun tidak lama akunya, hanya 7 bulan, sekadar mencoba membina hubungan saja.

Seperti Marissa, jika saat ini kamu tengah merasa gagal dan tertinggal jauh dari teman seangkatan, sesungguhnya kamu hanya perlu keras berusaha

Marissa bisa banget jadi panutanmu… via ghiboo.com
Kembali pada topik utama, Marissa bisa banget jadi role model buat kamu yang saat ini nggak percaya diri dengan kemampuanmu sendiri. Nggak ada yang terlahir sebagai manusia yang bodoh, guys! Semua punya hak yang sama untuk bisa sukses. Yup, selama kamu mau berusaha dengan keras dan yakin dengan kemampuanmu sendiri, segala rintangan pasti bisa kamu hadapi.
Betapa sebuah semangat yang ditularkan oleh seseorang mampu mengubah hidup orang lain. Ayo, sudahkah kamu menyemangati orang di sekitarmu?

Rabu, 20 Juli 2016

10 Selebritis yang membantu fansnya dengan uang pribadi, mulia!


Idola dan fans jadi dua hal yang memang saling mendukung satu sama lain. Hal inilah yang sangat disadari oleh para pesohor dunia termasuk di Indonesia. Kaya raya dan memiliki harta yang melimpah tidak membuat para artis kondang berikut ini menjadi sombong. Sebaliknya, mereka malah lebih peduli dengan sesamanya khususnya para fansnya yang butuh bantuan.

Dihimpun brilio.net dari berbagai sumber, Senin (18/7), berikut 10 selebritis pernah membantu fans dengan uang pribadinya.

1. Taylor Swift.


Menurut data Forbes 2016, Taylor Swift masuk dalam jejeran penyanyi terkaya di dunia dengan penghasilan mencapai puluhan triliun rupiah. Berada di puncak karier tidak membuat Taylor lupa diri. Pemilik album 1989 ini benar-benar sadar bahwa dirinya bukanlah apa-apa tanpa fansnya. Di setiap perayaan natal, Taylor pasti mengirimkan hadiah untuk para penggemarnya. Tidak hanya itu, dia acap kali membantu pengobatan para fansnya. Salut deh!

2. Justin Bieber.

Disukai atau pun dibenci sudah menjadi risiko tersendiri bagi Justin Bieber. Penyanyi yang baru saja memenangkan Grammy Awards pertamanya ini tidak peduli dengan berbagai cibiran tentang dirinya. Kebalikannya, Bieber justru sangat peduli dengan orang-orang yang mengidolakannya.

Setiap perayaan natal, Bieber tak pernah absen untuk membagikan boneka kepada anak-anak yang mengidolakannya. Selain itu, beberapa waktu lalu membiayai pengobatan dan akomodasi seorang gadis penderita kanker yang sangat ingin bertemu dengannya. Wah, dermawan ya!

3. Andien Aisyah.

Si pemilik suara merdu, Andien Aisyah, baru saja menjalankan kegiatan mulianya membantu anak-anak yang menderita kanker. Andien rela melelang sepatu kesayangannya demi mengumpulkan dana untuk kegiatan sosial tersebut. Sebagian besar dari anak-anak itu tentu mengagumi pelantun Sahabat Setia itu.

4. Denny Cagur.

Komedian sekaligus presenter Denny Cagur pun jadi salah satu artis Indonesia yang sangat peduli dengan fansnya. Bersama sang istri dia sempat menjenguk penggemarnya, Maria, yang sedang sakit di rumah sakit dan memberikan bantuan untuk biaya kesehatan.
Kamu pasti sangat mengenal selebritis nomor lima ini? Semasa hidupnya juga terkenal suka membantu. 
5. Olga Syahputra (alm).

Tentu kita semua tahu selain memiliki bakat yang luar biasa, almarhum Olga Saputra juga jadi salah satu artis Indonesia yang sangat dermawan. Mulai dari membantu biaya sekolah fans hingga biaya pengobatan fans yang sakit pernah dilakukannya sebagai bukti cintanya terhadap para penggemar karyanya.

6. Eminem.

Tinggal di Detroit membuat Eminem tersentuh. Berbagai persoalan sosial terjadi di negara tersebut. Eminem tidak ingin menutup mata dengan kondisi kemiskinan yang terjadi daerah tempat tinggalnya. Dengan uang pribadinya yang berkisar Rp 3,4 miliar, rapper kenamaan ini menyumbang ke Wolverine Human Services yang melayani berbagai tunawisma dan hampir seluruh penduduk kota ini termasuk tunawisma adalah fans beratnya.

7. Inul Daratista.

Pedangdut Inul Daratista pada kenal dong ya? Pedangdut yang kini memiliki berbagai usaha dan kekayaan yang cukup fantastis ini memiliki kedekatan tersendiri dengan fansnya. Tak jarang Inul mengunjungi fansnya yang sakit dan memberikan bantuan untuk para penggemarnya.

8. Oprah Winfrey.

Siapa yang tidak kenal artis multi talenta Oprah Winfrey. Karier yang cemerlang dan harta kekayaan yang melimpah tidak membuatnya hidup dalam kesombongan. Bahkan dibeberapa kesempatan dia pernah membelikan barang mewah lho untuk fansnya, mulai dari mobil, jam hingga intan. Baik sekali ya.

9. Keanu Reeves.

Ganteng, rendah hati dan dermawan. Wah, memang nggak ada alasan deh untuk nggak ngefans sama Keaunu Reeves. Bahkan dia pernah menyumbangkan uang pribadinya untuk membantu fansnya seorang anak berusia 9 tahun yang sedang menderita kanker.

10. Christian Bale.

Ganteng dan berhati emas, kalimat ini nampaknya pantes banget buat menggambarkan sosok Christian Bale. Ayah dua orang anak ini dikenal dengan kedermawanannya lho.  Salah satu yang pernah dibantunya adalah Jayden Barber, anak berusia empat tahun yang begitu mengidolakannya dan menderita kanker.
Sang aktor pun membantu semua pengobatannya dan membiayai perjalanan Barber dan keluarga ke wahana hiburan serta menghabiskan waktu seharian bersama Bale.

Turis Ini Berikan Sepatu ke Pengemis dan Pilih Nyeker


Aksi menyentuh hati dilakukan seorang turis di Kota Antigua, Guatemala. Pelancong pria tersebut memberikan sepatunya kepada pengemis renta yang duduk di pinggir jalan.
Peristiwa itu diabadikan oleh pengguna jalan. Turis lelaki itu tak menyadari aksi dermawannya itu direkam dalam video dan disebarkan ke media sosial.
Dalam video berdurasi sekitar 8 detik itu terlihat turis lelaki berkaos biru dongker berdiri di depan lelaki tua yang tengah duduk, bersandar di sebuah pintu.
Turis lelaki yang tak diketahui identitasnya tersebut kemudian melepas sepatu dan memberikannya kepada pria tua itu. Sang turis pun berlalu dengan bertelanjang kaki.

Tuai Banyak Pujian

Aksi turis ini mendapat banyak pujian dari pengguna media sosial. "Sedikit orang yang mau melakukan ini, kita harus mengikutinya," tulis salah satu pengguna media sosial.
Video yang diunggah oleh akun Fredd Ixla ke Facebook pada 14 Juli 2016 telah dilihat oleh 207.109 kali dan dibagikan 2.914 kali.
Video ini juga diunggah ke laman imgur.com pada 19 Juli 2016. Baru 16 jam diunggah, video tersebut sudah dilihat 2.567.311 kali.
Data Bank Dunia menunjukkan 75 persen penduduk Guatemala hidup di bawah garis kemiskinan dan 58 persen tak bisa membeli makanan. (Sah)

Videonya....


Sabtu, 16 Juli 2016

Meskipun Bekerja Sebagai Buruh Cuci Ibu Hebat Ini Bisa Kuliahkan Anak Sampai S3 di Jepang

Seperti yang telah kita ketahui semua bahwa perjuangan dan pengorbanan seorang ibu sangatlah besar untuk anak-anaknya. Hal itu bisa kita lihat sendiri dari awal dirinya mengandung sang anak selama 9 bulan hingga melahirkan. Bahkan perjuangannya tidak sampai di sana saja karena setelah melahirkan pun ia harus merawat dan mendidik anaknya sampai dewasa.
Semua ibu yang ada di dunia ini tentunya menginginkan segala yang terbaik untuk anak-anaknya. Oleh sebab itulah tidak heran jika ia mempertaruhkan segalanya, entah itu perasaan, pikiran atau pun tenaga. Seorang ibu tidak akan merasa keberatan jika dirinya harus bekerja banting tulang siang malam demi bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya.
Nah, kisah kali ini datang dari seorang ibu berusia 49 tahun. Ia merupakan ibu yang sangat hebat, mengapa tidak, meskipun dirinya hanya bekerja sebagai buruh cuci, tetapi ia bisa berhasil menyekolahkan anaknya bahkan sampai S3 di Jepang.
Yuniati, itulah nama ibu hebat tersebut, ia merupakan seorang buruh cuci warga Ketandan Kulon, Imogiri, Bantul. Ia telah berjuang demi kesuksesan anak-anaknya. Seperti yang dilansir dari merdeka.com, ibu dua anak ini rela bekerja keras menjadi buruh cuci bahkan sampai melakoni pekerjaan serabutan hanya demi memberikan pendidikan yang terbaik untuk semua buah hatinya.
Anak pertama ibu ini bernama Satya Chandra Wibawa Sakti, berusia 29 tahun, saat ini ia tengah kuliah S3 di Universitas Hokaido, Jepang. Sakti adalah salah seorang mahasiswa yang menerima beasiswa Dikti untuk kuliah di jurusan Kimia di Universitas Hokaido, Jepang pada tahun 2012. Sang ibu mengatakan bahwa dirinya akan melakukan pekerjaan apapun demi sang anak bisa sekolah tinggi agar anaknya tersebut tidak hidup seperti dirinya.
Anaknya tersebut baru selesai ujian S3, namun menurut sang ibu kemarin anaknya menelpon dirinya, ia meminta izin dirinya untuk lanjut pendidikan di Jerman satu tahun agar bisa mendapatkan gelar Doktor. Mendengar keinginan anaknya tersebut, sang ibu hanya bisa mendo'akan segala yang terbaik. Sebelum kuliah di Jepang, Sakti kuliah S1 jurusan kimia di UNY pada tahun 2004, kuliah S2 jurusan Kimia di UGM pada tahun 2008 silam.
Sementara anak kedua ibu ini yang bernama Oktaviana Ratna Cahyani yang kini berusia 27 tahun telah menjadi perawat di Rumah Sakit Harjo Lukito setelah dirinya lulus dari sebuah Akademi Perawat Bethesda.
Untuk membiayai sekolah anak-anaknya tersebut sang ibu sebenarnya pakai hutang, namun menurutnya anaknya tersebut tidak perlu tahu. Hal ini disebabkan agar anak-anaknya tidak minder dalam pergaulan. Namun yang membuat dirinya senang yaitu bahwa kedua anaknya tersebut tidak macam-macam, bahkan mereka tidak malu meskipun memiliki seorang ibu hanya buruh cuci.
Saat kedua anaknya tersebut masih kecil, Yuniati mengatakan bahwa dirinya telah mengatur waktu belajar anak-anaknya. Pulang sekolah anak-anaknya diharuskan tidur siang, sore hari diijinkan untuk bermain, dan malam diharuskan belajar.
Agar memudahkan anak-anaknya dalam belajar, Yuniati meminta anak-anaknya melingkari bagian-bagian yang tidak dimengerti atau dipahami. Setelah seperti itu, anak-anaknya diminta untuk menanyakan kepada guru mereka masing-masing di sekolah.
Ibu Yuniati1
Ketika anak pertamanya masuk kuliah S1, Yuniati pontang-panting mencari pinjaman uang. Dan beruntung pada saat itu setengah biaya masuk kuliah dibantu oleh pemerintah kabupaten Bantul. Saat anaknya masuk semester 2 ia tidak begitu merasa khawatir karena anaknya tersebut mendapatkan beasiswa. Ia hanya memberikan uang jajan sebesar Rp 5.000 perhari.
Penghasilannya menjadi buruh cuci hanyalah Rp 10.000 sekali cuci saja. Ibu hebat ini memilih uangnya tersebut digunakan untuk pendidikan anak-anaknya, ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Menurutnya yang terpenting ada uang untuk beli beras. Sedangkan untuk lauknya ia bisa mengambil daun pepaya untuk dimasak. Jika sudah membeli beras, sisa uang yang dimilikinya tersebut ditabung untuk bayar hutang.
Bahkan sampai saat ini Yuniati mengaku bahwa dirinya masih memiliki banyak hutang. Namun meskipun begitu hal itu tidak ia jadikan sebagai beban. Baginya yang terpenting anak-anaknya tersebut bisa memiliki masa depan yang lebih cerah darinya. Menurutnya jika dipikirkan dirinya malah akan stres.
Nah, sahabat perjuangan dan kerja keras serta do'a seorang ibu merupakan cahaya menuju kesuksesan. Semoga kita semua bisa berusaha sebaik munkin agar bisa berbakti dan membahagiakan ibu kita.

Meskipun Tanpa Lengan Pria Ini Rawat Ibu yang Sakit, Perjuangannya Sungguh Menyentuh Hati

Mungkin terkadang kita menganggap bahwa kita merupakan orang yang paling menderita di dunia ini. Namun jika kita mampu membuka mata sedikit saja dan melihat keadaan di sekitar, banyak sekali orang-orang yang hidupnya mungkin lebih menderita dibandingkan dengan kita. Ketika kita mampu membuka mata, mungkin ketika itu jugalah kita baru menyadari bahwa atas apa yang kita alami tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang dialami oleh orang lain. Setiap orang memiliki masalah dalam hidupnya, oleh karena itulah tidak ada alasan bagi kita untuk menghakimi diri kita sendiri.
Kisah kali ini datang dari sepasang ibu dan anak. Meskipun sang anak tidak memiliki lengan, tetapi ia tetap setia merawat ibunya yang sedang sakit. Demi sang ibu ia tidak pernah mengeluh dan putus asa, sebisa mungkin ia melakukan berbagai macam cara demi kesembuhan dan kebahagiaan ibu yang dicintainya tersebut.
Cheng Xingyin, itulah nama pria berbakti tersebut, Ia merupakan seorang pria berusia 48 tahun. Dimana ia kehilangan kedua lengannya tersebut saat dirinya masih berusia 7 tahun yang disebabkan oleh sebuah kecelakaan listrik.

Seperti yang dilansir dari shanghaiist.com, meskipun hidupnya tanpa lengan tetapi ia tidak pernah mengeluh dan terpojok, ia tidak merasa iri dengan orang-orang yang hidupnya normal. Ia tetap menjalani hidup dan aktivitasnya seperti biasa. Meskipun tanpa lengan, tetapi ia masih bisa bercocok tanam, memasak dan melakukan kegiatan lainnya. Ia berharap bahwa meskipun dirinya tida sempurna tetapi ia tidak harus menyusahkan keluarga dan orang lain yang ada di sekitarnya. Meskipun ia merupakan anak bungsu dari keluarganya, tetapi ia mampu memenuhi semua kebtuhan hidupnya sendiri secara mandiri.
Ujian Kembali Datang, Sang Ibu Sakit
Ujian yang menimpa dirinya tidak sampai disana saja. Karena ujian terus menerus datang dan menghampirinya. Ketika tahun 2014 silam, wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini dan sudah berusia 88 tahun tersebut sakit dan tidak bisa melakukan apa-apa. Sang ibu hanya bisa berbaring di tempat tidur. Penyakit bronkitis yang sudah diderita oleh sang ibu sejak lima tahu yang lalu nampaknya semakin parah.
Chen1
Mengetahui kondisi sang ibu, akhirnya ialah yang mengambil alih untuk merawat dan mengurus semua keperluan ibunya tersebut. Meskipun ia tidak memiliki lengan, tetapi dengan semampunya ia memasakan makanan sebanyak tiga kali dalam sehari untuk sang ibu. Tidak haya itu, ia juga menyuapi sang ibu.
Menurut tetangga di sekitarnya, meskipun Chen tidak memiliki lengan seperti orang lain pada umumnya, tetapi ia masih bisa bekerja. Bahkan ia bekerja lebih cepat dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan. Atas apa yang menimpa dirinya tersebut, ia tidak pernah menyalahkan takdir dan keadaan. Justru dengan semangatnya ia belajar dan melatih kedua kakinya untuk menggantikan fungsi lengan yang telah terenggut. Ia pada saat itu belajar mencuci dengan menggunakan kedua kakinya, memotong bahan-bahan makanan, dan memasak makan sendiri. Dan untuk sekarang ini, karena sudah terlatih ia sangat terampil dan bisa menggunakan kakinya untuk melakukan berbagai macam kegiatan lainnya.
Sungguh perjuangan hidup yang sangat menginspirasi. Cerita di atas dan apa yang dilakukan oleh Chen mampu memberikan beberapa pelajaran untuk kita semua. Dimana pelejaran pertama yaitu, atas apa yang kita miliki, atas apa yang telah menimpa kita itu bukan berarti bahwa kita harus mengeluh dan putus asa, karena tetap semangat dan bersabar adalah hal yang perlu kita lakukan. Bersyukurlah atas apa yang kita miliki, karena kebahagiaan itu adalah ketika kita bisa menerima semua yang kita dapatkan.
Pelajaran lainnya yaitu, untuk selalu berbakti kepada orangtua kita sendiri. Mereka adalah orang yang telah banyak berkorban dan berjuang untuk kita, oleh sebab itulah kita harus bisa membahagiakan dan membuat mereka bangga. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kita dari dulu sampai sekarang ini. Rawatlah mereka di masa-masa tua mereka dengan sebaik mungkin seperti mereka merawat kita dari mulai dilahirkan sampai sekarang ini.
Sahabat, mungkin saat ini hidup kita tidak mudah, tetapi yakinlah akan selalu ada jalan untuk kita tetap bertahan dan berjuang.

Rabu, 13 Juli 2016

Anak Tukang Ojek Raih Mimpi Jadi Insinyur


Bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi ternyata masih menjadi mimpi bagi sebagian anak muda Indonesia. Kebanyakan, faktor keuangan menjadi penyebab mimpi itu sulit terwujud.
Mimpi yang sama hampir dialami oleh Erwan Yova Ady Pratama. Lantaran kondisi keuangan keluarganya, Yova bahkan tak berani melanjutkan mimpi indah itu.
Tetapi kini, mimpi indah itu akan terwujud. Yova dinyatakan tercatat sebagai salah satu mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi.
Pemuda kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, 20 April 1998 begitu bangga bisa melanjutkan kuliah. Terutama dia bisa menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik salah satu universitas ternama Indonesia, Universitas Gadjah Mada.
"Senang sekali bisa diterima di UGM. Benar-benar bersyukur akhirnya apa yang saya impikan bisa terwujud," ujar Yova, dikutip dari ugm.ac.id, Rabu, 13 Juli 2016.
Yova merupakan sulung dari pasagan Suwarso, 47 tahun, dan Wiji Lestari, 39 tahun. Mereka tinggal di Jalan Menur, Polorejo, Babadan, Ponorogo.
Yova sempat hampir mengubur mimpinya untuk berkuliah. Ini lantaran pendapatan ayahnya sebagai tukang ojek tidak cukup untuk membayar biaya kuliah. Sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang mengurus dua adiknya.
"Bapak mendapat Rp30.000 setiap harinya dari hasil menarik ojek," kata Yova.
Sadar dengan kondisi orangtuanya, Yova tidak mau memaksakan diri bisa kuliah. Meski begitu, dia tidak pernah sekalipun patah semangat untuk terus belajar.
Keterbatasan ekonomi semakin memicu semangat dan etekad Yova. Alhasil, sejumlah prestasi mampu ia torehkan.
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), peringkat 1 di kelas tidak pernah lepas dari genggaman Yova.
Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Yova tidak pernah keluar dari posisi tiga besar di kelasnya. Dia pun mendapat beasiswa pendidikan selama tiga tahun.
Selain itu, alumnus SMA 1 Ponorogo ini juga memiliki sejumlah prestasi lain seperti Juara 1 Nasional Maritim Paper Competition 2016 yang digelar Institut Teknologi Surabaya (ITS). Di kompetisi kepenulisan ini, Yova menawarkan ide pengembangan aplikasi jasa layanan perbaikan kapah yang tengah berlayar di laut lepas.
Di samping itu, Yova juga meraih Juara 3 Paper Statistika Nasional 2015 dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Dia juga menyabet Juara 3 Esai Pentingnya Pendidikan tingkat Provinsi Jawa Timur.
Berkuliah di Jurusan Teknik Mesin, Yova tidak membawa pikiran kosong. Dia sudah memiliki sejumlah ide dan akan mewujudkannya di bangku kuliah nanti.
Dalam dirinya tertanam cita-cita ingin meniru jejak insinyur kebanggaan Indonesia, Baharuddin Jusuf (BJ) Habibie. Dia ingin melahirkan ciptaan yang mengharumkan nama bangsa Indonesia.
"Ada beberapa ide di kepala, inginnya sih bisa membuat sesuatu untuk Indonesia seperti Pak Habibie," kata Yova, yang sudah tidak sabar ingin bergabung dengan Tim Bimasakti UGM.
Apa yang diraih Yova membuat senyum kebanggaan Suwarso merekah. Meski dalam keadaan terbatas, Suwarso akan selalu mendukung setiap langkah yang ditempuh putra sulungnya itu.
"Semoga yang dicita-citakan bisa berhasil dan membantu adik-adiknya dalam meraih pendidikan kelak," kata Suwarso. (Ism)

Kamis, 30 Juni 2016

Batalkan Umrah, Suami Istri Polisi Ini Gunakan Uang untuk Dirikan Musala, Hasilnya Luar Biasa


Seorang perempuan berseragam dan berkerudung coklat baru saja turun dari sepeda motor di sebelah bangunan kecil persis depan bekas tambak di Lingkungan Wonosari pesisir Kelurahan Sobo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Setelah mengucapkan salam, perempuan yang dipanggil 'Bu Darmawan' itu langsung diserbu puluhan anak-anak untuk bersalaman.
"Bu Darmawan aku sudah baca sampai halaman 10," kata seorang anak laki-laki berusia 10 tahun sambil menunjukkan bukunya.
Pakaian seragam polisi yang dikenakan perempuan yang memiliki nama Ririn Mufiah tersebut juga tidak membuat anak-anak canggung untuk mendekat dan duduk di pangkuannya.
"Ini kegiatan saya setiap sore selepas dinas. Mengajar ngaji mereka. Karena waktunya mepet dan jarak rumah jauh saya ya langsung ke sini tanpa harus ganti baju," ujar Aiptu Ririn Mufiah, Rabu (29/6/2016).
Sehari-hari, perempuan kelahiran Tulungagung, Jawa Timur tersebut berdinas di Binmas Polsek Kota Banyuwangi. Suaminya, Aiptu Darmawan Prihandoko, bertugas di Polair Banyuwangi.
Ririn bercerita bahwa musala kecil tersebut didirikannya bersama suaminya sejak akhir tahun 2010. Saat itu, dia mengalami sakit parah dan dokter mengatakan sulit untuk sembuh.

"Sudah berbulan-bulan saya keluar masuk rumah sakit. Akhirnya kami meniatkan untuk membangun musala dari uang yang akan kami digunakan untuk umrah," katanya sambil tersenyum.
Mereka sengaja memilih di lingkungan Wonosari Pesisir karena daerah tersebut berada di pinggiran dan jarang mendapatkan perhatian walaupun masuk wilayah Kecamatan Kota Banyuwangi.
Ada sekitar 25 rumah tangga yang mayoritas adalah buruh nelayan dan dari kalangan tidak mampu. Saat musim hujan, daerah tersebut menjadi langganan banjir rob dan tak mendapat bantuan dari pemerintah.
"Saat saya dan suami jalan kaki di daerah sini saya trenyuh. Anak-anak banyak yang bermain di jam sekolah. Mereka tidak ada yang mengarahkan. Banyak juga yang tidak sekolah karena mereka tidak mampu," tuturnya.
Dia percaya bahwa mendirikan musala di daerah tersebut lebih banyak bermanfaat dibandingkan dia mendirikan musala di sekitar rumahnya sendiri.
Di tanah seluas 4 x 8 meter yang dibelinya dari warga sekitar, pasangan Ririn dan Darmawan kemudian mendirikan musala kecil. Pembangunannya tidak sampai dua bulan karena dibantu oleh masyarakat sekitar.
"Ada yang bilang, Alhamdulillah ada musala, Bu. Suami saya jarang salat soalnya," katanya sambil tertawa.

Untuk operasional musala tersebut, mereka mengeluarkan biaya dari uang pribadi termasuk membeli buku serta peralatan mengaji untuk anak-anak. Kemudian ada beberapa donatur dari rekannya membantu membuatkan plafonmusala.
Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya warga melakukan kesepakatan untuk iuran mengaji. Jumlahnya tidak banyak hanya Rp 500 atau Rp 1.000 setiap minggu.
Uang tersebut merupakan tabungan yang digunakan jika ada kegiatan di musala, seperti perayaan keagamaan atau pun untuk buka bersama.
Ririn dan suaminya mengajar mengaji dibantu dengan Evi warga sekitar yang merupakan lulusan pondok pesantren, serta Ilham, pekerja harian lepas di Polair tempat Darmawan bekerja.
"Bu Ririn dan Pak Darmawan sudah peduli kami dan saya terpanggil untuk ikut membantu mereka walau cuma ngajar ngaji setiap sore," ucap Evi.
Sementara itu, Ilham, yang juga lulusan pondok pesantren, mendapatkan jatah menjadi imam saat salat, khususnya saat salat Tarawih.
"Rumah saya jauh dari sini. Tapi pas datang ke sini langsung gimana gitu rasanya. Saya yang lulusan pondok pesantren selama ini tidak pernah melakukan apa-apa. Anggap ini catatan amal ibadah," katanya.

Bahkan, dia dan Pak Darwaman mendatangi satu per satu rumah yang ada di wilayah tersebut untuk mengajak menghidupkan musala, mulai dari salat berjamaah, belajar mengaji untuk anak-anak dan pengajian untuk dewasa.
"Alhamdulillah sampai saat ini keadaan semakin membaik," katanya.
Sementara itu, Alvia Aldina Zaziro (9), bercerita saat pertama kali bertemu dengan pasangan Ririn dan Darmawan ia langsung ditawari sekolah.
Saat ini, anak perempuan itu sudah duduk di kelas 2 di SD Sobo Banyuwangi setelah didaftarkan oleh pasangan polisi tersebut. Selain diajar mengaji oleh Bu Ririn, gadis yang akrab dipanggil Via tersebut juga senang ketika Pak Darmawan bercerita tentang kisah nabi-nabi setelah selesai mengaji.
"Aku sayang sama Bu Ririn dan Pak Darmawan. Mau bilang terima kasih soalnya sekarang bisa sekolah sama ngaji. Tapi aku malu," katanya sambil sembunyi di punggung Ririn yang tertawa lepas.
"Selain untuk anak-anak ini. Ada mimpi yang ingin saya wujudkan bersama Bapak, yaitu menaikkan haji dan umrah orangtua kami. Itu cita-cita yang sampai saat ini masih kami impikan. Entah kapan tapi kami percaya pasti bisa. Karena ridha dari orangtua kami bisa seperti ini," pungkas ibu dua anak tersebut. (*)

Kamis, 23 Juni 2016

Demi Hafal Alquran, Hafiz Tampan Kembar Tiga Pilih Cara Ini


Tiga saudara kembar dan tampan Abdul Hannan Jamaluddin, Abdul Mannan Jamaluddin, dan Abdul Ihsan Jamaluddin memilih jalan menjadi hafiz (penghafal) Alquran. Mereka bahkan meninggalkan bangku sekolah demi bisa menghafal Alquran sepenuhnya.
"Hafalan Alquran sejak 2 Maret 2012, sekolahnya home schooling jadi lebih fokus belajar alqurannya," kata Abdul Ihsan Jamaludin ditemui di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Selasa, 21 Juni 2016 kemarin.
Pria yang kerap disapa Ihsan ini mengaku ada kelebihan tersendiri belajar dengan metode home schooling. Salah satunya memiliki banyak waktu luang sehingga dapat dimanfaatkan untuk menghafal Alquran.
"Home schooling waktunya lebih fokus. Kalau sekolah umum fokusnya terbagi-bagi," kata dia.
Ketiga saudara kembar ini memiliki jadwal rutin dalam menghafal Alquran. Jadwal itu dimulai pada pagi dini hari hingga malam.
"Kami jam 3 pagi sampai 10 malam fokus membaca Alquran dan tidak ada hal lain, jedanya sholat. Jam 8 pagi sampai jam 10 dipotong dua jam buat sekolahhome schooling," ucap Ihsan.
Abdul Mannan Jamaluddin mengatakan sebelum menjadi hafiz, ketiganya memperdalam ilmu tajwid agar dapat membaca Alquran dengan baik dan benar pada 2012. Setelah menguasai ilmu tersebut, mereka baru menghafal Alquran.
"Tahun 2012 itu awalan, kami masih belajar tajwid. Belajar membaca yang benar, memperlancar bacaan, sekitar sembilan bulan bisa menghafal Alquran," kata Mannan.
Ada alasan tertentu yang menjadi dasar ketiganya mau menghafal Alquran 30 juz. Mereka meyakini Alquran akan menjadi bekal kelak di akhirat. (Ism) 
 
Copyright © 2014 PatriotNews

Powered by JoJoThemes