BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juli 2016

Penarik Becak Ini Terkenal Rajin Berjamaah dan Pasang Tarif "Seikhlasnya"



Kepergian Mustafa (61) menghadap Sang Khalik saat sujud pada rakaat terakhir shalat Ashar di Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng, Banda Aceh, Senin (25/7/2016) banyak menuai simpati.
Mustafa yang sehari-hari dikenal sebagai penarik beca itu, dikenal sebagai jamaah tetap yang konsisten berjamaah di masjid tersebut.
Warga Meunasah Bak Trieng Gampong Lamreung, Kecamatan Krueng Barona, Jaya, Aceh Besar itu juga merupakan sosok yang akrab dengan warga yang biasa meminta jasanya mengantar barang.
Seorang netizen Abu Danial Mirza, menuliskan testominya di facebook terkait sosok Mustafa. Abu Danial menyebut sosok Mustafa sebagai orang yang mulia.
“Allahu akbar....Semoga petanda beliau adalah orang yang mulia. Beliau juga pernah mengangkat buku kami suatu hari, dan ketika kami tanya berapa ongkos jasanya, beliau mengatakan seberapa ikhlasnya saja. Subhanallah. Beliau juga orang yang konsisten dengan shalat di masjid."
Komentar lain datang juga dari Marwan A Rachman ia menulis “Ketika Allah mengangkat derajat seseorang diantara hamba-hambaNya maka tiada seorangpun mampu membendungnya. Maka tiada siapapun boleh mengaku diri bahwa paling tinggi derajatnya, apakah dia orang kaya, alim atau paling dermawan sekalipun. Karena yang paling tinggi derajatnya adalah yang paling taqwa diantara hamba-hambanya meskipun hambanya hanya seorang tukang becak sekalipun.”
Ada juga yang mengaitkan kemuliaan almarhum Mustafa dengan para anggote dewan. Akun Zularzianza Zian malah berani menulis “nyan bukti bahwa.pengayuh becak lebih mulia..
daripadapada anggota DPR..”

Sabtu, 16 Juli 2016

Meskipun Tanpa Lengan Pria Ini Rawat Ibu yang Sakit, Perjuangannya Sungguh Menyentuh Hati

Mungkin terkadang kita menganggap bahwa kita merupakan orang yang paling menderita di dunia ini. Namun jika kita mampu membuka mata sedikit saja dan melihat keadaan di sekitar, banyak sekali orang-orang yang hidupnya mungkin lebih menderita dibandingkan dengan kita. Ketika kita mampu membuka mata, mungkin ketika itu jugalah kita baru menyadari bahwa atas apa yang kita alami tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang dialami oleh orang lain. Setiap orang memiliki masalah dalam hidupnya, oleh karena itulah tidak ada alasan bagi kita untuk menghakimi diri kita sendiri.
Kisah kali ini datang dari sepasang ibu dan anak. Meskipun sang anak tidak memiliki lengan, tetapi ia tetap setia merawat ibunya yang sedang sakit. Demi sang ibu ia tidak pernah mengeluh dan putus asa, sebisa mungkin ia melakukan berbagai macam cara demi kesembuhan dan kebahagiaan ibu yang dicintainya tersebut.
Cheng Xingyin, itulah nama pria berbakti tersebut, Ia merupakan seorang pria berusia 48 tahun. Dimana ia kehilangan kedua lengannya tersebut saat dirinya masih berusia 7 tahun yang disebabkan oleh sebuah kecelakaan listrik.

Seperti yang dilansir dari shanghaiist.com, meskipun hidupnya tanpa lengan tetapi ia tidak pernah mengeluh dan terpojok, ia tidak merasa iri dengan orang-orang yang hidupnya normal. Ia tetap menjalani hidup dan aktivitasnya seperti biasa. Meskipun tanpa lengan, tetapi ia masih bisa bercocok tanam, memasak dan melakukan kegiatan lainnya. Ia berharap bahwa meskipun dirinya tida sempurna tetapi ia tidak harus menyusahkan keluarga dan orang lain yang ada di sekitarnya. Meskipun ia merupakan anak bungsu dari keluarganya, tetapi ia mampu memenuhi semua kebtuhan hidupnya sendiri secara mandiri.
Ujian Kembali Datang, Sang Ibu Sakit
Ujian yang menimpa dirinya tidak sampai disana saja. Karena ujian terus menerus datang dan menghampirinya. Ketika tahun 2014 silam, wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini dan sudah berusia 88 tahun tersebut sakit dan tidak bisa melakukan apa-apa. Sang ibu hanya bisa berbaring di tempat tidur. Penyakit bronkitis yang sudah diderita oleh sang ibu sejak lima tahu yang lalu nampaknya semakin parah.
Chen1
Mengetahui kondisi sang ibu, akhirnya ialah yang mengambil alih untuk merawat dan mengurus semua keperluan ibunya tersebut. Meskipun ia tidak memiliki lengan, tetapi dengan semampunya ia memasakan makanan sebanyak tiga kali dalam sehari untuk sang ibu. Tidak haya itu, ia juga menyuapi sang ibu.
Menurut tetangga di sekitarnya, meskipun Chen tidak memiliki lengan seperti orang lain pada umumnya, tetapi ia masih bisa bekerja. Bahkan ia bekerja lebih cepat dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan. Atas apa yang menimpa dirinya tersebut, ia tidak pernah menyalahkan takdir dan keadaan. Justru dengan semangatnya ia belajar dan melatih kedua kakinya untuk menggantikan fungsi lengan yang telah terenggut. Ia pada saat itu belajar mencuci dengan menggunakan kedua kakinya, memotong bahan-bahan makanan, dan memasak makan sendiri. Dan untuk sekarang ini, karena sudah terlatih ia sangat terampil dan bisa menggunakan kakinya untuk melakukan berbagai macam kegiatan lainnya.
Sungguh perjuangan hidup yang sangat menginspirasi. Cerita di atas dan apa yang dilakukan oleh Chen mampu memberikan beberapa pelajaran untuk kita semua. Dimana pelejaran pertama yaitu, atas apa yang kita miliki, atas apa yang telah menimpa kita itu bukan berarti bahwa kita harus mengeluh dan putus asa, karena tetap semangat dan bersabar adalah hal yang perlu kita lakukan. Bersyukurlah atas apa yang kita miliki, karena kebahagiaan itu adalah ketika kita bisa menerima semua yang kita dapatkan.
Pelajaran lainnya yaitu, untuk selalu berbakti kepada orangtua kita sendiri. Mereka adalah orang yang telah banyak berkorban dan berjuang untuk kita, oleh sebab itulah kita harus bisa membahagiakan dan membuat mereka bangga. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kita dari dulu sampai sekarang ini. Rawatlah mereka di masa-masa tua mereka dengan sebaik mungkin seperti mereka merawat kita dari mulai dilahirkan sampai sekarang ini.
Sahabat, mungkin saat ini hidup kita tidak mudah, tetapi yakinlah akan selalu ada jalan untuk kita tetap bertahan dan berjuang.

Selasa, 12 Juli 2016

Gelapnya Pandangan, Tak Berarti Hidup Tak Diterangi Kebahagiaan


Beberapa tahun lalu, di sebuah kota industri di provinsi paling barat Pulau Jawa, kami memiliki tetangga yang sangat luar biasa. Bukan karena dia adalah tokoh politik, pejabat pemerintahan, pemimpin perusahaan atau tokoh masyarakat yang disegani. Namun karena bisa dibilang dialah 'nyawa' Ramadan di komplek perumahan kami.
Dialah muadzin pengumandang adzan yang bangun lebih pagi untuk memanggil jemaah sholat subuh dan panggilan sholat empat waktu lainnya. Dialah pemimpin do'a bersama di sela - sela sholat tarawih dan niat puasa setiap malam selama Ramadan berlangsung, dari awal hingga malam terakhir. Dia pula ah yang akan mengumandangkan takbir di malam menjelang Lebaran tiba di keesokan harinya.
Namun terlepas dari semua itu, dia adalah seorang penyandang tuna netra. Menghidupi istri dan dua anak kecilnya, dia hanyalah tukang pijat biasa. Mengontrak rumah tipe terkecil yang ada di komplek perumahan terbesar di kotanya. Rumah yang tak jauh dari masjid kecil yang selama ini menjadi dunianya yang lain. Dunia yang memberikan kekuatan, kedamaian dan keyakinan bahwa hidup dalam kegelapan tidaklah seburuk yang dibayangkan orang dan juga tak membuatnya jadi terpuruk. Lima kali sehari, dia dibantu tongkatnya berjalan dari rumahnya menuju masjid untuk datang paling dahulu agar bisa mengumandangkan azan. Kadang anak perempuannya yang kala itu masih kecil, membimbingnya berjalan beriringan menuju masjid sambil berceloteh tentang segala hal.
Suatu kali terdengar percakapan mereka saat perlahan melewati gerbang depan rumah:
"Pak, Allah tak adil ya Pak. Kenapa bapak buta, tapi aku nggak?"
"Husss, jangan bilang begitu. Allah selalu adil pada makhluknya. Buktinya Allah memberikan kamu, anak yang mau menuntun bapak ke masjid."
Si anak terdiam, masih belum puas dengan jawaban bapaknya. Namun sepertinya tak ada sanggahan lagi, atau mungkin karena mereka sudah terlalu jauh dari jangkauan pendengaran telinga saya. Adegan percakapan bapak dan anak ini selalu terngiang dan tebayang hingga kini, apalagi saat Ramadan tiba.
Adilkah Tuhan memberikan kehidupan kepada bapak yang tak akan pernah melihat wajah anaknya? Adilkah Tuhan kepada bapak yang selama hidupnya tak akan melihat indahnya dunia? Pertanyaan yang seorang anak kecil pun tergoda untuk mencari jawabannya. Namun setidaknya jawaban sederhana bapak tadi menjelaskan segalanya tentang adil atau tidaknya kondisi kehidupan bagi seorang manusia melalui 'kacamata'nya.
Mungkin si bapak merasa, anak - anak dan keluarganya adalah anugerah terbesar dalam hidupnya yang gelap. Mungkin si bapak juga sudah merasa cukup puas bisa 'melihat' dari kedua mata anak perempuannya yang masih kecil. Mungkin juga bapak tadi tak lagi mempedulikan apakah Tuhan telah berlaku adil atau tidak kepadanya, karena baginya: "Dia yang paling bahagia di dunia, adalah orang yang tak pernah berfikir apakah hidup itu adil atau tidak, dan hanya fokus pada apa yang dia miliki dan dapatkan saja."
Di setiap Ramadan, ada satu momen dimana saya akan selalu mengingatnya. Bapak tuna netra, mantan tetangga, yang selalu merasa sebagai orang yang paling bahagia di dunia. Dia pun mengingatkan saya, saat kehidupan menjadi terasa tak adil bagi saya. Dan mungkin benar Juga kalimat Albust Dumbledore dalam Film Harry Potter tentang hidup dan kegelapan, yang berkata
 
"Happiness can be found even In the darkness times, if one only remembers to turn on the light" 
Dituliskan oleh Yasin bin Malenggang untuk rubrik #Spinmotion di Vemale Dotcom. Lebih dekat dengan Spinmotion (Single Parents Indonesia in Motion) dihttp://spinmotion.org/

Senin, 11 Juli 2016

Aneh Tapi Nyata!! Gambar-gambar Ini Berhasil Menceritakan Betapa Anehnya Jalan Pikir Manusia Kekinian!!

Sobat cerpen, di zaman modern ini, supaya nggak ketinggalan zaman atau kudet, seringnya kita harus mengikuti tren masa kini. Sayangnya, tren yang populer sekarang ini seringkali diluar akal sehat dan kalau kamu perhatiin lebih seksama lagi, justru kekinian itu jadi aneh! Yuk kita liat buktinya!
 1. Standar kecantikan setiap wanita yang kadang nggak wajar..
Kalau kamu nggak berhasil mengikuti, kamu mungkin bakalan terpisah dari masyarakat.. miris yah!
2. Dengan dunia modern, kita membunuh bumi kita sendiri
Membunuh bumi ini udah sama aja sama kita bunuh diri kan?

3. Manusia yang nggak pernah puas dan bersyukur
Seperti pepatah yang mengatakan, kamu selalu menginginkan yang tidak kamu miliki. Itulah kenapa kamu selalu ngerasa sirik sama orang lain!

4. Kesulitan banyak orangtua
Gimana gambaran mama tunggal yang harus mengorbankan dirinya cuman buat kasi makan anak-anaknya..
5. Kamu selalu makan bersama gadget kamu!
Kini nggak ada lagi kebersamaan, kenyataannya teknologi membuat kita jadi orang yang sibuk sendiri..

6. Ini yang lebih sedih
Lebih sedihnya lagi, bahkan hubungan kamu sama pacar kamu pun jadi lebih banyak ngurusin gadget!
7. Kenyataan pait dari facebook
Bagaimana facebook akhirnya sedikit sedikit memakan sebagian besar waktu hidup kita sehari-hari. Coba berapa jam yang kamu pake buat online facebook setiap harinya?

8. Yang pertama dan terakhir dalam hari-harimu
Kini ponselmu jadi benda yang pertama dan terakhir kamu lihat setiap harinya, dan sosial media jadi bagian penting sepanjang harimu.

9. Merusak generasi muda
Gambar ini menunjukkan bagaimana generasi muda berkomunikasi…. Sedih yahh…

10. Kenyataan paling menyedihkan
Coba pikirin gimana pada akhirnya kita bertindak di dunia modern ini? Malahan semakin membunuh banyak orang! 

Senin, 27 Juni 2016

Kamu Gak Dewasa Kalau Masih Melakukan Body Shaming Ke Orang Lain!

Body shaming atau mengomentari kekurangan dari fisik orang lain memang tanpa sadar sering kita lakukan. Dari mulai basa-basi, bercanda kelewatan atau bahkan demi mencairkan suasana. Padahal, sebenarnya kebiasaan buruk ini gak baik dilakukan terus-terusan.
Selain memangkas kepercayaan diri orang yang kamu komentari, ternyata ada enam alasan lain yang membuatmu harus segera menghentikannya. Apa saja sih kira-kira?

1. Body shaming sama kejamnya dengan bullying.

Mengomentari kekurangan fisik dari orang lain bisa dikategorikan denganbullying. Meski kamu gak melakukan kontak fisik yang merugikan, namun apa yang kamu lakukan sudah termasuk bullying secara verbal. Bahkan, tindakan ini lebih kejam karena sangat bisa mempengaruhi pembentukan karakter seseorang. Nah, lho!

2. Body shaming bisa membuat orang lain makin gak percaya diri dan stress, kamu mau jadi penyebab utamanya?

Komentar bernada negatifmu sanggup membuat kepercayaan diri orang lain menghilang. Bahkan, hal ini bisa berpengaruh buruk dan mengendap selamanya pada diri orang yang kamu komentari. Bukan gak mungkin dia akan mengurung diri dan stress karena terlalu insecure terhadap penampilan fisiknya. Jika kamu gak mau menjadi penyebab utamanya, maka hentikan kebiasaan buruk ini sekarang juga.

3. Sebenarnya, body shaming sama sekali gak ada manfaat baiknya untukmu lho.

Tidak ada manfaat baik yang bisa kamu temukan dari kebiasaan mengomentari fisik orang lain. Mungkin pada awalnya kamu akan merasakan kepuasaan karena bisa menyinyiri penampilan orang lain. Tapi, percaya deh nantinya justru penyesalan yang akan kamu rasakan karena sudah bersikap kurang terpuji.

4. Gak ada manusia yang sempurna, begitupula kamu yang pasti punya kelemahan fisik juga.

Sebelum melakukan body shaming, seharusnya kamu berkaca terlebih dahulu. Apakah fisikmu sesempurna itu sehingga kamu pantas mengomentari kekurangan fisik orang lain? Apakah fisikmu sama sekali tak memiliki cela? Jika jawabannya “tidak” maka jangan berani-berani mem-bully fisik orang lain.

5. Melakukan body shaming menunjukkan kalau kamu pribadi yang gak dewasa.

Mulutmu harimaumu. Melakukan body shaming justru akan mencerminkan kelemahanmu sendiri. Orang lain bakal tahu bahwa kamu bukan pribadi yang dewasa dan memiliki tabiat buruk karena suka nyinyir. Makanya, stopmengomentari keburukan fisik orang lain, karena hal ini justru akan menjadiboomerang yang mencemari imagemu sendiri.

6. Orang yang kamu ejek itu ciptaan Tuhan, mengejeknya berarti kamu ikut mencela ciptaanNya.

Kamu memang harus berpikir 1000x sebelum berkomentar. Kamu perlu ingat bahwa orang yang kamu ejek merupakan ciptaan Tuhan juga. Jadi, menyoroti kelemahan fisiknya sama saja dengan mencela ciptaan Tuhan. Apa kamu gak merasa berdosa setelah melakukannya?
Masih melakukan hal-hal di atas? Sebenarnya kamu sudah dewasa atau belum sih? Coba introspeksi diri dulu sebelum kamu berani melakukan body shaming ke orang lain.
 
Copyright © 2014 PatriotNews

Powered by JoJoThemes